Senin, 13 Oktober 2014

Pahit Paria

 
Peria atau pare adalah tumbuhan merambat yang berasal dari wilayah Asia Tropis, terutama daerah India bagian barat, yaitu Assam dan Burma. Anggota suku labu-labuan atau Cucurbitaceae ini biasa dibudidayakan untuk dimanfaatkan sebagai sayuran maupun bahan pengobatan.Nama Momordica yang melekat pada nama binomialnyaberarti "gigitan" yang menunjukkan pemerian tepi daunnya yang bergerigi menyerupai bekas gigitan.Peria adalah sejenis tumbuhan merambat dengan buahyang panjang dan runcing pada ujungnya serta permukaan bergerigi. Peria tumbuh baik di dataran rendah dan dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, tegalan, dibudidayakan, atau ditanam di pekarangan dengan dirambatkan di pagar. Tanaman ini tumbuh merambat atau memanjat dengan sulur berbentuk spiral, banyak bercabang, berbau tidak enak serta batangnya berusuk isma. Daun tunggal, bertangkai dan letaknya berseling, berbentuk bulat panjang, dengan panjang 3,5 - 8,5 cm, lebar 4 cm, berbagi menjari 5-7, pangkalnya berbentuk jantung, serta warnanya hijau tua.Bunga merupakan bunga tunggal, berkelamin dua dalam satu pohon, bertangkai panjang, mahkotanya berwarna kuning. Buahnya bulat memanjang, dengan 8-10 rusuk memanjang, berbintil-bintil tidak beraturan, panjangnya 8-30 cm, rasanya pahit, warna buahhijau, bila masak menjadi oranye yang pecah dengan tiga daun buah. 
Peria memiliki banyak nama lokal, di daerah Jawa di sebut sebagai pariaparepare pahitpepareh. Di Sumatera, peria dikenal dengan nama prieuforipeparekambeh,paria.Orang Nusa Tenggara menyebutnya payatruwukpaitappaliakpariakpania, dan pepule, sedangkan di Sulawesi, orang menyebutnya dengan poyapudupentu,paria belenggede, serta palia.

Edelweiss weis weis

Anaphalis javanica, yang dikenal secara populer sebagai Edelweiss jawa(Javanese edelweiss) atau Bunga Senduro, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Nusantara.[1] Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 meter dan dapat memiliki batang sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 meter. Tumbuhan ini sekarang dikategorikan sebagai langka.
Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus[1] , sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupulalattabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya. 
Jika tumbuhan ini cabang-cabangnya dibiarkan tumbuh cukup kokoh, edelweis dapat menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik Myophonus glaucinus. Bagian-bagian edelweis sering dipetik dan dibawa turun dari gunung untuk alasan-alasan estetis dan spiritual, atau sekedar kenang-kenangan oleh para pendaki. Pada bulan Februari hingga Oktober 1988, terdapat 636 batang yang tercatat telah diambil dariTaman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang merupakan salah satu tempat perlindungan terakhir tumbuhan ini. Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat ditoleransi. DiTaman Nasional Bromo Tengger Semeru, tumbuhan ini dinyatakan punah.[2]
Sayangnya keserakahan serta harapan-harapan yang salah telah mengorbankan banyak populasi, terutama populasi yang terletak di jalan-jalan setapak. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa edelweis dapat diperbanyak dengan mudah melalui pemotongan cabang-cabangnya. Oleh karena itu potongan-potongan itu mungkin dapat dijual kepada pengunjung untuk mengurangi tekanan terhadap populasi liar.
Salah satu tempat terbaik untuk melihat edelweis adalah di Tegal Alun (Gunung Papandayan), Alun-Alun Surya Kencana (Gunung Gede), Alun-Alun Mandalawangi (Gunung Pangrango), dan Plawangan Sembalun (Gunung Rinjani).
dari : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
  1. ^ a b Whitten, Tony and Jane (1992). Wild Indonesia: The Wildlife and Scenery of the Indonesian Archipelago. United Kingdom: New Holland. hlm. page 127. ISBN 1-85368-128-8.
  2. ^ dlc.dlib.indiana.edu
 Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25' LS dan 116º28' BT ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dariTaman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur.
Secara administratif gunung ini berada dalam wilayah tiga kabupaten:Lombok TimurLombok Tengah dan Lombok Barat.Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25' LS dan 116º28' BT ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dariTaman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur.
Secara administratif gunung ini berada dalam wilayah tiga kabupaten:Lombok TimurLombok Tengah dan Lombok Barat.
Gunung Rinjani dengan titik tertinggi 3.726 m dpl, mendominasi sebagian besar pemandangan Pulau Lombok bagian utara.
Di sebelah barat kerucut Rinjani terdapat kaldera dengan luas sekitar 3.500 m × 4.800 m, memanjang kearah timur dan barat. Di kaldera ini terdapat Segara Anak (segara= laut, danau) seluas 11.000.000 m persegi dengan kedalaman 230 m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Di Segara Anak banyak terdapat ikan mas dan mujair sehingga sering digunakan untuk memancing. Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut.
Di sisi timur kaldera terdapat Gunung Baru (atau Gunung Barujari) yang memiliki kawah berukuran 170m×200 m dengan ketinggian 2.296 - 2376 m dpl. Gunung kecil ini terakhir aktif/meletus sejak tanggal 2 Mei 2009 dan sepanjang Mei, setelah sebelumnya meletus pula tahun 2004.[2][3] Jika letusan tahun 2004 tidak memakan korban jiwa, letusan tahun 2009 ini telah memakan korban jiwa tidak langsung 31 orang, karena banjir bandang pada Kokok (Sungai) Tanggek akibat desakan lava ke Segara Anak.[4] Sebelumnya, Gunung Barujari pernah tercatat meletus pada tahun 1944 (sekaligus pembentukannya), 1966, dan 1994.
Selain Gunung Barujari terdapat pula kawah lain yang pernah meletus,disebut Gunung Rombongan.

Senin, 16 September 2013

SUDI MAMPIR

Senin malam, ada yang tak biasa dirasakan diri ini yang begitu lemah dengan segala kekurangan apalagi jika menghadapi satu keindahan rasa yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa yang tak mungkin bisa dibendung lagi sebagai manusia biasa.
Derap langkah terdengar dikesunyian malam yang hampir mendekati sepertiga malam dengan dingin yang mengiringinya. Langkahnya terdiam ketika terasa sudah tepat didepan batas istana gubukku dengan disusul sekitar 5 detik tak lama dari diamnya, keluar pula sebuah kata doa “Assalamu’alaikum” terdengar jelas lembutnya walaupun lembutnya itu tak bisa menyembunyikan rasa lelah yang dirasanya. Jelas saja hari ini ia telah beraktifitas penuh dengan segala kesibukannya sebagai “Mahasiswa Lama” yang harus merampungkan beberapa kewajibannya demi menggapai cita. “MaLa” Sebuah predikat yang dianggap sebagai sebuah beban namun tetap ia nikmati dan maknai setiap sensasinya sebagai seorang itu.
Tak berani ku membuka pintu karena bukan kuasaku melainkan kuasa raja terakhir, ayahku. Akhirnya pintu rumahku terbuka juga. Sang Mala pun lekas masuk menginjakkan kakinya diistanaku. Berbincang penuh serius dengan raja terakhir , ayahku. Diri ini pun mendengar bincangan kedua sosok pemimpin itu dengan penuh serius walaupun hanya bisa berdiam dibalik ruang lain karena sekali lagi ku katakan karena bukan kuasaku.
30 menit berlalu sudah, terdengar bincangannya mulai mengalun lemah. Jelas saja ini waktunya manusia beristirahat demi menyambut segala kejutan-kejutan yang akan diterimanya esok hari. Dialog terakhiri karena urusan sang Mala dengan raja terakhir  telah usai. Kembali lagi terlontar kata doa “Assalamu’alaikum” dari suara yang tak lagi asing untukku. Diikuti dengan derap langkah menjauh dari istana gubukku. Langkah kaki yang terdengar sedikit-sedikit lalu hilang ditelan kesunyian malam. Sang Mala bersiap-siap merehatkan diri dengan berharap bermimpi indah malam ini, begitu pula denganku.

RUANG RAHASIA, seninmalam, 09092013, 11:13 pm

DM

Sore Itu

SORE ITU
Lantunan musik jepang bercampur dengan gemericik air hujan yang menggema bersama-sama memasuki telinga nan lebar ini, sore itu.  Sangat asyik ku ikuti nada dan irama setiap bait jepang yang mengalir ditelinga. Namun, sesekali tak fokus, lamunan kembali mampir pada raga yang sedang asyik menikmati sebuah Seni. Atau sekian kalinya raga ini bergerak tak tentu seperti bingung mau melakukan apa, atau malah gelisah dan kesal seperti saat mengerjakan satu soal reaksi senyawa kompleks kimia organic yang tak terselesaikan. Atau lagi malah berdiam diri terlalu lama seperti sedang menunggu sesuatu.
Aktifitas aneh ini lenyap seketika saat sang teknologi, benda kecil persegi panjang dengan layar segi empat bergetar dan sinar layarnya memberikan sinyal euforia pada raga yang sedari tadi menjadi aneh. Sinyal euforia langsung tertransfer pada organ dalam dekat jantung milikku ini. Ku lihat hujan pun mengurangi porsi air yang ia turunkan demi menyaksikan ragaku yang kembali normal. Kembali ku nikmati Seni suara indah tadi ditemani dengan gemuruh hujan yang kembali menggema dengan deras.  
Tiba-tiba, benda kecil berteknologi itu kembali menyajikan sinyal sumringah pada yang memiliki. Benar-benar menjadi pengobat untuk aktifitas aneh tadi. Membuatku segera beranjak dari sumber Seni suara yang sedang dinikmati, walau dengan sedikit keraguan apakah ia benar-benar menunggu atau tidak. Bergegas membawa pelindung tetesan hujan berwarna violet muda dan melangkahkan kaki dengan sesekali menggelak tawa serta menebar senyuman.
Dalam sekejap ragaku telah sampai di dekat sudut lapang yang bermandikan hujan. Kali ini mataku mencoba mengamati dimana ia berteduh. Oh, ternyata pelindung tetesan hujan berwarna hijau meneduhkannya. Ternyata lagi ia sedang anteng berdua dengan lensa hitamnya. Bukannya mencoba memanggil malah hanya bisa tertawa-tawa sendirian melihat tingkahnya. “biarkanlah sa-ngalieukna” omongku. Cukup lama ku amati dari jauh, belum sadar juga kalau ia sedang diamati. Akhirnya menoleh juga ia, menghampiri pelindung tetesan hujan berwarna violet muda. Di serahkannya secarik kertas yang telah terlipat disertai dua atom yang telah melekatkan lipatan kertas kepada pemilik pelindung tetesan hujan berwarna violet muda.
Kini, tulisan yang ditunggu-tunggu, yang membuat penasaran, dan membuat rasa yang aneh ini timbul kembali dlm diripun akhirnya datang juga dalam genggaman. Bersyukur, kejadian ini bukan disambut dengan hujan asam yang bisa jadi membuat payung-payung manusia ini bolong dan bocor. Melainkan, disambut dengan hujan yang pada hakikatnya adalah sebuah berkah dari Yang Maha Mulia.
 Dengan disaksikan guyuran hujan, dua buah payung, dan sebuah kamera.  Dengan senang hati menerimanya walaupun tak tau apakah sebuah runtutan tulisan ilmiah, cerita pendek kah, atau hanya sebuah untaian-untaian celotehan semata. Bergerak membalikkan raga ini meninggalkan ia sang penulis ditengah berkah yang Tuhan berikan sore itu.

RUANG RAHASIA, Rabu malam 11092013 10:38 pm

DM
CUMA HUJAN

Lagi-lagi sore, lagi-lagi sore…….
Cuma hujan yang bisa nyébor lapangan gersang dalam sekejap
Cuma hujan yang bisa membuat pohon-pohon yang ada di fakultas terlihat lebih hijau
Cuma hujan yang bisa membuat gazebo banjir gara-gara atapnya bocor
Cuma hujan yang bisa bikin burung-burung merpati yang ada dikampus mandi secara alamiah
Cuma hujan yang bisa bikin heliped fakultas terlihat gagah ditengah-tengah fakultas
Cuma hujan yang bisa bikin dosen mata kuliah dasar umum mengurungkan niatnya untuk mengisi kuliah
Cuma hujan yang bisa bikin mahasiswa pada mejeng di balkon-balkon fakultas gara-gara gak ada dosen
Cuma hujan yang bisa bikin mahasiswa lari terbirit-birit rela basah kuyup gara-gara takut telat masuk kuliah
Cuma hujan yang bisa bikin manusia pamer payungnya yang beraneka ragam corak dan warna
Cuma hujan yang bisa bikin acara ospek tak sesuai rounddownnya gara-gara lapangan diguyur hujan dan cuaca tidak panas terik
Cuma hujan yang bisa bikin bête manusia gara-gara manusianya lupa bawa payung
Cuma hujan yang bisa bikin helm basah kuyup di parkiran gara-gara nyimpennya kebalik
Cuma hujan yang bisa bikin udara Ledeng semakin dan semakin sejuk
Cuma hujan yang bisa bikin Setiabudi semakin macet padat merayap
Cuma hujan yang bisa bikin orang galau semakin terhanyut dalam lamunan kegalauannya
Cuma hujan yang bisa bikin orang kasmaran semakin berbunga-bunga hatinya
Cuma hujan yang bisa bikin Sang Penulis Handal kepikiran Sang Penulis Dadakan
Cuma hujan yang menyimpan history romantik milik dua sejoli (bukan Galih dan Ratna)
Dan Cuma hujan yang selalu mendatangkan berkah kesejukan dalam warna-warni hidup


FPTK, Jum’at Sore, 13092013

DM