Senin, 16 September 2013

Sore Itu

SORE ITU
Lantunan musik jepang bercampur dengan gemericik air hujan yang menggema bersama-sama memasuki telinga nan lebar ini, sore itu.  Sangat asyik ku ikuti nada dan irama setiap bait jepang yang mengalir ditelinga. Namun, sesekali tak fokus, lamunan kembali mampir pada raga yang sedang asyik menikmati sebuah Seni. Atau sekian kalinya raga ini bergerak tak tentu seperti bingung mau melakukan apa, atau malah gelisah dan kesal seperti saat mengerjakan satu soal reaksi senyawa kompleks kimia organic yang tak terselesaikan. Atau lagi malah berdiam diri terlalu lama seperti sedang menunggu sesuatu.
Aktifitas aneh ini lenyap seketika saat sang teknologi, benda kecil persegi panjang dengan layar segi empat bergetar dan sinar layarnya memberikan sinyal euforia pada raga yang sedari tadi menjadi aneh. Sinyal euforia langsung tertransfer pada organ dalam dekat jantung milikku ini. Ku lihat hujan pun mengurangi porsi air yang ia turunkan demi menyaksikan ragaku yang kembali normal. Kembali ku nikmati Seni suara indah tadi ditemani dengan gemuruh hujan yang kembali menggema dengan deras.  
Tiba-tiba, benda kecil berteknologi itu kembali menyajikan sinyal sumringah pada yang memiliki. Benar-benar menjadi pengobat untuk aktifitas aneh tadi. Membuatku segera beranjak dari sumber Seni suara yang sedang dinikmati, walau dengan sedikit keraguan apakah ia benar-benar menunggu atau tidak. Bergegas membawa pelindung tetesan hujan berwarna violet muda dan melangkahkan kaki dengan sesekali menggelak tawa serta menebar senyuman.
Dalam sekejap ragaku telah sampai di dekat sudut lapang yang bermandikan hujan. Kali ini mataku mencoba mengamati dimana ia berteduh. Oh, ternyata pelindung tetesan hujan berwarna hijau meneduhkannya. Ternyata lagi ia sedang anteng berdua dengan lensa hitamnya. Bukannya mencoba memanggil malah hanya bisa tertawa-tawa sendirian melihat tingkahnya. “biarkanlah sa-ngalieukna” omongku. Cukup lama ku amati dari jauh, belum sadar juga kalau ia sedang diamati. Akhirnya menoleh juga ia, menghampiri pelindung tetesan hujan berwarna violet muda. Di serahkannya secarik kertas yang telah terlipat disertai dua atom yang telah melekatkan lipatan kertas kepada pemilik pelindung tetesan hujan berwarna violet muda.
Kini, tulisan yang ditunggu-tunggu, yang membuat penasaran, dan membuat rasa yang aneh ini timbul kembali dlm diripun akhirnya datang juga dalam genggaman. Bersyukur, kejadian ini bukan disambut dengan hujan asam yang bisa jadi membuat payung-payung manusia ini bolong dan bocor. Melainkan, disambut dengan hujan yang pada hakikatnya adalah sebuah berkah dari Yang Maha Mulia.
 Dengan disaksikan guyuran hujan, dua buah payung, dan sebuah kamera.  Dengan senang hati menerimanya walaupun tak tau apakah sebuah runtutan tulisan ilmiah, cerita pendek kah, atau hanya sebuah untaian-untaian celotehan semata. Bergerak membalikkan raga ini meninggalkan ia sang penulis ditengah berkah yang Tuhan berikan sore itu.

RUANG RAHASIA, Rabu malam 11092013 10:38 pm

DM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar