SORE ITU
Lantunan musik
jepang bercampur dengan gemericik air hujan yang menggema bersama-sama memasuki
telinga nan lebar ini, sore itu. Sangat
asyik ku ikuti nada dan irama setiap bait jepang yang mengalir ditelinga.
Namun, sesekali tak fokus, lamunan kembali mampir pada raga yang sedang asyik
menikmati sebuah Seni. Atau sekian kalinya raga ini bergerak tak tentu seperti
bingung mau melakukan apa, atau malah gelisah dan kesal seperti saat
mengerjakan satu soal reaksi senyawa kompleks kimia organic yang tak
terselesaikan. Atau lagi malah berdiam diri terlalu lama seperti sedang
menunggu sesuatu.
Aktifitas aneh
ini lenyap seketika saat sang teknologi, benda kecil persegi panjang dengan
layar segi empat bergetar dan sinar layarnya memberikan sinyal euforia pada
raga yang sedari tadi menjadi aneh. Sinyal euforia langsung tertransfer pada
organ dalam dekat jantung milikku ini. Ku lihat hujan pun mengurangi porsi air
yang ia turunkan demi menyaksikan ragaku yang kembali normal. Kembali ku
nikmati Seni suara indah tadi ditemani dengan gemuruh hujan yang kembali
menggema dengan deras.
Tiba-tiba,
benda kecil berteknologi itu kembali menyajikan sinyal sumringah pada yang memiliki. Benar-benar menjadi pengobat untuk
aktifitas aneh tadi. Membuatku segera beranjak dari sumber Seni suara yang
sedang dinikmati, walau dengan sedikit keraguan apakah ia benar-benar menunggu
atau tidak. Bergegas membawa pelindung tetesan hujan berwarna violet muda dan
melangkahkan kaki dengan sesekali menggelak tawa serta menebar senyuman.
Dalam sekejap
ragaku telah sampai di dekat sudut lapang yang bermandikan hujan. Kali ini
mataku mencoba mengamati dimana ia berteduh. Oh, ternyata pelindung tetesan hujan
berwarna hijau meneduhkannya. Ternyata lagi ia sedang anteng berdua dengan lensa hitamnya. Bukannya mencoba memanggil
malah hanya bisa tertawa-tawa sendirian melihat tingkahnya. “biarkanlah sa-ngalieukna” omongku. Cukup lama ku
amati dari jauh, belum sadar juga kalau ia sedang diamati. Akhirnya menoleh
juga ia, menghampiri pelindung tetesan hujan berwarna violet muda. Di
serahkannya secarik kertas yang telah terlipat disertai dua atom yang telah
melekatkan lipatan kertas kepada pemilik pelindung tetesan hujan berwarna
violet muda.
Kini, tulisan yang ditunggu-tunggu, yang membuat penasaran, dan membuat
rasa yang aneh ini timbul kembali dlm diripun akhirnya datang juga
dalam genggaman.
Bersyukur, kejadian ini bukan disambut dengan hujan asam yang bisa jadi
membuat payung-payung manusia ini bolong dan bocor. Melainkan, disambut dengan
hujan yang pada hakikatnya adalah sebuah berkah dari Yang Maha Mulia.
Dengan disaksikan guyuran hujan, dua buah payung, dan sebuah kamera. Dengan senang hati menerimanya walaupun tak tau apakah sebuah runtutan
tulisan ilmiah, cerita pendek kah, atau hanya sebuah untaian-untaian celotehan semata. Bergerak membalikkan raga ini
meninggalkan ia sang penulis ditengah berkah yang Tuhan berikan sore itu.
RUANG
RAHASIA, Rabu malam 11092013 10:38 pm
DM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar