Senin malam,
ada yang tak biasa dirasakan diri ini yang begitu lemah dengan segala
kekurangan apalagi jika menghadapi satu keindahan rasa yang diberikan Tuhan
Yang Maha Kuasa yang tak mungkin bisa dibendung lagi sebagai manusia biasa.
Derap langkah
terdengar dikesunyian malam yang hampir mendekati sepertiga malam dengan dingin
yang mengiringinya. Langkahnya terdiam ketika terasa sudah tepat didepan batas
istana gubukku dengan disusul sekitar 5 detik tak lama dari diamnya, keluar
pula sebuah kata doa “Assalamu’alaikum” terdengar jelas lembutnya walaupun
lembutnya itu tak bisa menyembunyikan rasa lelah yang dirasanya. Jelas saja
hari ini ia telah beraktifitas penuh dengan segala kesibukannya sebagai “Mahasiswa
Lama” yang harus merampungkan beberapa kewajibannya demi menggapai cita. “MaLa”
Sebuah predikat yang dianggap sebagai sebuah beban namun tetap ia nikmati dan
maknai setiap sensasinya sebagai seorang itu.
Tak berani ku
membuka pintu karena bukan kuasaku melainkan kuasa raja terakhir, ayahku.
Akhirnya pintu rumahku terbuka juga. Sang Mala pun lekas masuk menginjakkan
kakinya diistanaku. Berbincang penuh serius dengan raja terakhir , ayahku. Diri
ini pun mendengar bincangan kedua sosok pemimpin itu dengan penuh serius
walaupun hanya bisa berdiam dibalik ruang lain karena sekali lagi ku katakan
karena bukan kuasaku.
30 menit
berlalu sudah, terdengar bincangannya mulai mengalun lemah. Jelas saja ini
waktunya manusia beristirahat demi menyambut segala kejutan-kejutan yang akan
diterimanya esok hari. Dialog terakhiri karena urusan sang Mala dengan raja
terakhir telah usai. Kembali lagi
terlontar kata doa “Assalamu’alaikum” dari suara yang tak lagi asing untukku.
Diikuti dengan derap langkah menjauh dari istana gubukku. Langkah kaki yang
terdengar sedikit-sedikit lalu hilang ditelan kesunyian malam. Sang Mala
bersiap-siap merehatkan diri dengan berharap bermimpi indah malam ini, begitu
pula denganku.
RUANG RAHASIA,
seninmalam, 09092013, 11:13 pm
DM
.jpg)